Keberadaan Lumba-Lumba Tanpa Sirip ( Finless Porpoise) di Perairan Kubu Raya

Konferensi Pers BKSDA

Jariborneo – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar pada tanggal 7/11/2016 kemarin mengadakan konferensi Pers terkait pengungkapan spesies mamalia baru di perairan di Kabupaten Kubu Raya. Jari Borneo Barat sebagai salah satu dari 3 LSM yang diundang bersama dengan yayasan Titian Lestari dan LPS AIR ikut diminta untuk menyebarluaskan pengungkapan spesies mamalia air baru di Kabupaten Kubu Raya. Konferensi Pers ini turut dihadiri oleh para wartawan, baik dari media cetak maupun media elektronik yang ada di Kalbar maupun media Nasional perwakilan Kalbar.

Mamalia laut yang terjaring oleh nelayan di wilayah perairan Kubu Raya pada bulan April 2016 di Padang Tikar, dipastikan adalah jenis lumba-lumba tanpa sirip (Finless Porpoise). Hal ini dibutikan dari hasil tes DNA yang selama 7 bulan berakhir dilakukan oleh BKSDA Kalbar bersama WWF-Indonesia yang bekerja sama dengan Indonesian Biodiversity Rescearch Centre Universitas Udayana.

Lumba-lumba tanpa sirip ini termasuk dalam kelompok Cetacean paling kecil, umumnya berukuran kurang dari dua meter. Mamalia lain yang termasuk dalam golongan Cetacean adalah paus, lumba, dan pesut.

Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, Albertus Tjiu mengatakan bahwa hasil tes DNA terhadap jenis lumba-lumba tanpa sirip yang dijumpai diperairan Kubu Raya beberapa waktu lalu sangat penting, mengingat minimnya data terkait satwa ini di dunia.

Porpoise berbeda dengan Cetacean lainnnya, ia merupakan hewan pemalu dan bukan hewan akrobatik, sehingga jarang terlihat dipermukaan, kecuali saat ia ingin bernafas. Sedangkan Lumba-Lumba umumnya interaktif, senang melompat tinggi sehingga sering terlihat dekat nelayan dan bisa dilakukan pengamatan. Oleh karena itu, penelitin Porpoise menjadi sulit dilakukan mengingat minimnya perjumpaan dengan satwa jenis inidiberbagai lokasi didunia, dan di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian khusus terhadap spesies ini. Untuk itu bagi kami, penemuan spesies ini di wilayah Kubu Raya menambah informasi penting tentang keberadaan dan sebaran spesies lumba-lumba tanpa sirip di Indonesia. Selain itu informasi ini juga akan disampaikan pada acara 2nd Southeast Asian Marine Mammaml Stranding Network Symposium – Workshop-Training” paparnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriyono juga menambahkan bahwa temuan – temuan ini patut dibanggakan, karena semakin menunjukkan bahwa Kubu Raya menjadi wilayah yang memiliki keberagaman spesies yang tinggi mulai dari daratan sampai laut.

p_20161107_131240_1_p

“Sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat mengenai keberadaan mamalia laut ini perlu dilakukan sebagai rencana aksi bersama, mengingat hewan-hewan ini masuk kedalam kategori hewan yang dilindungi berdasarkan UU No.5 tahun 2016 dan PP No. 7 tahun 1990. Disamping itu, dijaga dan dilindungi habitatnya, sehingga habitat satwa tersebut bisa ditetapkan sebagai kawasan ekosistem esensial,” ungkapnya.

Tingginya keanekaragaman hayati di Kubu Raya, perlu upaya konservasi yang komprehensif. WWF-Indonesia, sejak tahun 2015 telah mendeklarasikan wilayah penting yang memeliki keanekaragaman hayati yang ckup tinggi di Kubu Raya dengan sebutan Lansekap Kubu. Pengelolaan berbasis lansekap atau bentang alam adalah bagian dari strategi WWF-Indonesia untuk menciptakan efektivitas pengelolaan disuatu wilayah. Sebutan Lansekap Kubu juga ditujukan sebagai upaya untuk menciptakan ikon suatu wilayah, sehingga masyarakat luas mudah untuk mengenalinya.

“Pengelolaan berbasis lansekap merupakan upaya WWF-Indonesia dalam mengelola suatu wilayah dengan pendekatan multi-pihak. Saat ini WWF-Indonesia dengan dukunga pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan tiga perusahaan kehutanan, yaitu PT. Kandelia Alam, PT. Bina Silva Nusa dan PT. Ekosistem khatulistiwa Lestari telah memiliki komitmen untuk bersama-sama menjaga nilai konservasi yang ada di Lansekap Kubu dan didukung lembaga IDH sebagai lembaga donor,” Kata Pawan_KUBU Landseascape Leader, WWF-Indonesia, Ian M. Hilman.

“Temuan jenis mamalia laut yang baru diungkap di Kabupaten Kubu Raya ini patut kita banggakan. Ini menunjukkan bahwa wilayah perairan Kubu Raya menjadi semakin penting untuk menjadi perhatian bersama, tentu apapun program nantinya akan dikembangkan oleh para pihak, sebisa mungkin bisa berjalan seimbang antara kepentinagn ekonomi, sosial dan lingkungan. Pemerintah kaupaten Kubu Raya akan mendukung uapaya penelitian dan pengembangan program lingkungan yang sedang dijalankan oleh WWF-Indonesia,” tambah Kasubbid Pertanian, Perikanan dan kelautan Bappeda Kabupaten Kubu Raya, Muhammad Riza Iqbal.

“Kesinambungan antara upaya konservasi kawasan maupun spesies dari aspek ekologi dan kehidupan masyarakat dari aspek sosial dan ekonomi tonggak utama keberlangsungan ekosistem suatu wilayah yang dapat dicapai melalui dukungan serta kerjasama para pihak yang selama ini sudah berjalan dengan baik di Kubu Raya,’ Pungkas Albertus.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa menghubungi :

Ir. Sustyo iriyono

Kepala BKSDA Kalimantan Barat

HP: 081219973006

Email: sustyo.bksdakalbar@gmail.com

 

Dwi Suprapti

Marine Species Cosevation Coordinator WWF-Indonesia

HP: 08123655906

Email: dsuprapti@wwf.id

 

Muhammad Riza Iqbal

Kasubbid Perikanan dan kelautan Bappeda kabupaten Kubu Raya

HP:08980385211

Email:iqbalplano03@gmail.com

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *