Ketika Pembuat Arang Kayu Curhat Tak Ada Pilihan

Abdul Hadi (55) dekat tungkunya menunjukkan hasil arang dari pohon bakau, Sabtu (4/6/2016). Masyarakat tidak punya pilihan lain untuk meninggalkan pekerjaan yang berdampak rusaknya hutan mangrove.
Abdul Hadi (55) dekat tungkunya menunjukkan hasil arang dari pohon bakau, Sabtu (4/6/2016). Masyarakat tidak punya pilihan lain untuk meninggalkan pekerjaan yang berdampak rusaknya hutan mangrove.

Potensi hutan yang begitu melimpah di Desa Batu Ampar, sejak turun temurun menjadi nilai pemenuh kebutuhan masyarakat sekitar.

Tanpa sadar sampai saat ini, pemanfaatan hutan masih terus berlangsung. Sehingga dampaknya mulai dirasakan, semakin berkurangnya kapasitas hutan dirasakan secara global oleh semua masyarakat.

Bagi nelayan, pembuat arang kayu mangrove serta pada ekosistem alam dan lingkungan secara luas. Sebelum semua habis meski terlambat kini pemerintah mulai menggencarkan program percepatan perhutanan sosial. Skemanya melalui Hutan Kemasyarakat (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), hutan ada dan hutan kemintraan.

Desa Batu Ampar saat ini telah melakukan pengajuan terbentuknya hutan desa seluas 30 ribu hektar. Demi menyelamatkan hutan yang terus mengalami degradasi. Kesadaran masyarakat juga mulai tumbuh seiring sosialisasi yang terus dilakukan pemerintah desa.

Meski untuk meninggalkan sepenuhnya bagi masyarakat pengusaha tungku pembuat arah pohon bakau (mangrove) masih berlanjut.

“Jika kami ada usaha lain mungkin lebih memilih usaha lain. Banyak risiko sebenarnya dalam menjalankan usaha ini. Kata orang saja yang untungnya banyak tapi kalau diperinci pendapatan kami sebulan bersihnya tidak lebih dari Rp 1,2 juta saja,” kata seorang pemilik tungku arah pohon bakau Dusun Sungai Limau Desa Batu Ampar, Abdul Hadi (55).

Ia mengisahkan proses pembuatan arang ini membutuhkan waktu yang panjang. Dari mencari pekerja penebang pohon bakau, pengangkutan hingga pada proses pembuatan yang memakan waktu berhari-hari. Setelah jadi arang kayu dalam tungku tidak bisa langsung diambil. Meski didinginkan hingga mencapai 10 hari lamanya.

“Bisa dibayangkan sulitnya. Makanya jika kami memang ada pilihan lain sudah ditinggalkan pekerjaan ini. Kami juga sadar kalau pekerjaan ini dapat merusak hutan bakau. Tapi jika kami tidak bekerja tentunya keluarga tidak bisa makan,” tutur Hadi.

Sumber: Pontianak.TribunNews.co.id

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *