Potret Kehidupan : Trauma Karhutla Masyarakat Desa Teluk Empening

PONTIANAK – Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menjadi populer di tahun 2015, ketika tidak hanya mengancam kawasan sekitar lokasi kebakaran, namun membahayakan jiwa banyak orang secara nasional.

Berdasarkan data yang dihimpun JARI Indonesia Borneo Barat, rawan dan sensitifnya hutan dan lahan di Kalimantan Barat terhadap ancaman kebakaran, salah satunya diakibatkan oleh luasnya lahan gambut yang mencapai 1,5 juta hektar.

Pada tahun 2015 di Kalimantan Barat, luas kebakaran mencapai 167,7 ribu hektar. Kemampuan pemadaman hanya seluas 761,4 hektar (0,45%), meskipun akhirnya dapat terpadamkan seluas 166.929,6 hektar (99%) atas peran serta masyarakat.

Meskipun luas kebakaran dapat dilokalisir, namun akibat dari kebakaran tidak hanya dapat dituntaskan melalui pemadaman. Luasnya lahan gambut dan komposisi tanah di Kalimantan Barat mempengaruhi meluasnya dampak yang diakibatkan oleh kebakaran.

Akibatnya, selain pemadaman penanggulangan kebakaran, penting untuk mendorong adanya pencegahan kebakaran serta pemulihan paska kebakaran.

Untuk melihat penanganan pasca bencana kebakaran hutan di Kalimantan Barat, JARI Indonesia Borneo Barat mengajak tiga media lokal melakukan trip perjalanan jurnalistik di Desa Teluk Empening, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (25/5/2016) hingga Jumat (27/5/2016).

Perjalanan menuju desa swadaya yang dibentuk pada bulan Juli 1963 dimulai dari tepian Dermaga Sungai Durian menggunakan transportasi air masyarakat yang dikenal dengan nama speedboat.

Sebelum berangkat, kendaraan roda dua yang dibawa menuju ke dermaga diamankan pada tempat penitipan kendaraan di sekitar dermaga dengan tarif Rp 15 ribu permotor selama dua hari.

Untuk sampai ke sana, membutuhkan waktu kurang lebih 60 menit menyisir sungai terpanjang di Indonesia (Sungai Kapuas) dengan bandrol sebesar Rp 60 ribu untuk satu penumpang.

Meski harus berjibaku dengan bisingnya suara mesin kapal dan berayunnya karena gelombang yang diterjang, hal itu sirna ketika dapat melihat sisi lain kehidupan masyarakat di tepian sungai.

Pemandangan aktivitas masyarakat seperti mandi, mencuci, bekerja, mencari ikan dan beberapa perahu yang melintas membawa angin segar pelepas penat dengan hiruk pikuk perkotaan.

Bahkan terlihat juga beberapa hewan dan tumbuhan, di pohon-pohon yang tumbuh di tepian sungai. Namun sayang, keindahan panorama alam Kalimantan Barat, cacat akibat banyaknya sampah yang mengotori sakralnya Sungai Kapuas sumber kehidupan manusia dan alam.

Sesampainya di desa yang dulunya bernama Desa Tanjung Duku dengan pimpinan Suna bin Una, bersama dengan beberapa masyarakat, tim yang beranggotakan tiga jurnalis dan empat staf JARI menyusuri jejak-jejak Karhutla yang menimpa desa ini 2015 lalu.

Sekretaris Desa, Badrun (55) menuturkan, kebakaran mulai terjadi di desa berpenduduk 1.258 jiwa sejak tahun 1980an. Namun seingat ia kebakaran cukup besar terjadi mulai tahun 2007, 2012 dan 2015 yang paling besar.

Kebakaran 2015 dianggap terbesar lantaran lahan pertanian masyarakat Dusun Kelola Jaya dan Dusun Sampang habis terbakar, bahkan hingga sampai ke hutan di wilayah desa.

Lahan pertanian ia sendiri turut dilahap api. Ada sekitar 2 hektar dengan 800 pokok tanaman karet. Bersama dengan masyarakat ia ikut andil dalam upaya memadamkan kebakaran yang melanda desanya.

“Saya ikut memadamkan, waktu itu kami seadanya, seperti ember, parang, kami bikin sekat-sekat, dibersihkan terus di jaga, kadang-kadang kamek kecapean, lihat angin langsunglah diamankan dulu, dibersihkan, di jaga kalau dibiarkan juga tidak bisa, nanti melompat apinya,” ucapnya sembari menunjuk beberapa lokasi bekas kebakaran tahun 2015.

Dikatakan Badrun, akibat kebakaran besar yang melanda, masyarakat mengalami trauma untuk memanfaatkan lahan secara luas. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena masyarakat tak ingin lahan yang ditanam dengan biaya besar menjadi terbakar dan menyebabkan kerugian.

Untuk mengantisipasi kebakaran terulang, masyarakat membuat sekat bakar berupa parit dengan lebar sekitar 80 centimeter dengan jarak tertentu pada lahan milik masyarakat.

Namun hal ini menurutnya hanya bersifat sementara. Masyarakat sesungguhnya menginginkan parit tersebut dapat lebih lebar seperti parit pembatas antara wilayah desa dengan perusahaan Kelapa Sawit Bumi Perkasa Gemilang agar api tidak melompat ke lahan lain.

“Kami mau buat seperti itu, tapi sulit alat, biaya dan tenaga terbatas. Kami sudah ajukan itu. Ada juga minta dibuat kanal dan embung,” ungkapnya.

Ia berharap ada bantuan dari pemerintah terlebih dengan hadirnya program restorasi gambut, dapat masuk ke desa sehingga di tahun-tahun berikutnya tak lagi berhadapan dengan api.

Sumber: Tribune Pontianak

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *