Telah Terjamah Tangan Manusia, Hutan di Desa Batu Ampar Tak Seutuh Dulu

TELUSURI BAKAU - Tim Jurnalis trip saat menuju hutan bakau melaui anak sungai, di Desa Batu Ampar, Sabtu (4/6). Pemadangan indah didalam namun kerusakan hutan bakau banyak ditemukan akibat penebangan liar.
TELUSURI BAKAU – Tim Jurnalis trip saat menuju hutan bakau melaui anak sungai, di Desa Batu Ampar, Sabtu (4/6). Pemadangan indah didalam namun kerusakan hutan bakau banyak ditemukan akibat penebangan liar.

Pengembangan pengolahan buah hutan terus dilakukan masyarakat. Mulai dari pengolahan buah mangrove, buah pohon nipah terus dikembangkan.

Guna mengurangi pemanfaatan hutan yang terus menimbulkan kerusakan. Sehingga hutan di Desa Batu Ampar tidak ada lagi yang utuh, semuanya telah terjamah oleh tangan manusia.

Dalam pemanfaatan ini, seakan masyarakat punya tugas sesuai gendernya. Bagi para pria mencari pohon mangrove untuk diolah menjadi arang, daun pohon nipah untuk dijadikan atap rumah.

Sementara ibu-ibunya yang saat ini tergabung dalam organisasi PKK punya tugas mendesain buah-buahan hutan itu menjadi lebih bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomis.

Seorang ibu rumah tangga, Nurana (44) mengungkapkan dirinya telah beberapa kali mengikuti pelatihan membuat sirup dari buah mangrove dan buah nipah. Hasilnya cukup menarik karena bisa menjadi sirup yang tak kalah dengan sirup di pasaran.

“Hanya saja kita kesulitan dalam pemasarannya. Kalau untuk pembuatannya sendiri cukup mudah, hanya buang mangrove, buah nipah dan buah nanas dicampur semuanya. Diambil airnya lalu setelah beberapa proses penyaringan bisa menjadi sirup,” ujarnya.

Pengelohan ini, menjadi sasaran dalam pelestarian hutan yang saat ini sudah semakin kritis kondisinya. Tatkala kaum prianya memanfaatkan hutan mengrove dengan mengambil kayunya, justru disini kaum ibunya memiliki cara yang sesuai tujuan pelestarian hutan memanfaatkan buahnya.

“Tidak hanya buat sirup saja, kita juga ada membuat kerupuk keppah. Banyak yang kita pelajari dalam pemanfaatan hasil dari hutan tanpa harus menebang hutannya. Cuma secara langsung memang belum menghasilkan karena kendalanya dari pemasaran dan masyarakat yang belum banyak menggunakan sirup atau kerupuk keppah ini,” ungkapnya.

Desa Batu Ampar sendiri konon pernah menjadi lokasi yang paling dikenal dari hasil hutannya. Namun saat ini, banyak peralihan masyarakat yang dulunya hidup dari hasil hutan dan ekosistemnya harus banting setir. Tak jarang harus bekerja keluar daerah.

Sumber: Pontianak.tribunnews.co.id

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *