Woman Forest Defender Goes To Campus Seminar Peringatan Hari Kartini

image

Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi 2026, berbagai pihak dari kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil di Lampung berkumpul dalam forum dialog bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” yang diselenggarakan di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dan dihadiri oleh 122 peserta. Forum ini diselenggarakan oleh The Asia Foundation melalui program Women Forest Defenders (WFD) dengan JARI Indonesia Borneo Barat sebagai mitra pelaksana, bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Seminar ini bertujuan untuk memperkenalkan pengalaman dan praktik baik perempuan penjaga hutan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat, serta meningkatkan pemahaman generasi muda mengenai peran perempuan dalam pengelolaan hutan​​​​. Salah satu narasumber women champion monitoring hutan dari Desa Kalibandung Nini Andriani mengatakan “Sekitar 90 persen penjaga hutan desa merupakan perempuan, yang aktif dalam kegiatan monitoring kawasan dan menjaga kelestarian hutan dan Perempuan di desa bukan hanya membantu, tetapi memimpin. Dari hutan, mereka menjaga kehidupan sekaligus menopang ekonomi keluarga. Kondisi ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran nyata dan dominan dalam menjaga lingkungan di tingkat tapak. Mereka tidak hanya terlibat, tetapi juga memimpin berbagai inisiatif berbasis komunitas.”

Dalam sesi penanggap, perwakilan pemerintah dan akademisi memberikan pandangan strategis terhadap penguatan peran perempuan dalam aksi iklim. Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kalimantan Barat, Setiyo Haryani, S.Hut., M.Env, menekankan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan perlu didukung secara lebih sistematis melalui kebijakan dan program pemerintah. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan berbasis gender menjadi kunci dalam memastikan program lingkungan berjalan lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sementara itu, dari kalangan akademisi, Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura menyampaikan bahwa penguatan kapasitas menjadi faktor penting dalam mendorong kepemimpinan perempuan. Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam melanjutkan upaya pelestarian lingkungan dengan perspektif yang lebih inklusif dan berkeadilan. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pengakuan terhadap peran perempuan dalam aksi iklim, sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih luas di Kalimantan Barat.